Refleksi 2.24

Salam, Tim.

Berikut adalah catatan reflektif saya minggu ini. Semoga bermanfaat.

—————————————-

  1. Di siang Agustus yang sangat panas. Terik. Puncak musim kemarau yang betul-betul gila. Saya menemui istri saya yang saat itu bekerja untuk sebuah project yang berkantor di kampus IAIN Sunan Ampel, Surabaya, oh ya kini UIN-SA.  Saya akan bertemu orang penting siang ini di sebuah hotel di pusat kota, ungkap saya pada istri. Udara sangat panas, saya perlu pakai mobil. Kalau lanjutkan pakai motor, pasti saya berkeringat tak karuan. Saya serahkan kunci motor, dan saya bawa mobil keluarga nan mungil itu. Alhamdulillah, tabungan sekian lama terkumpul dapat kami buat uang muka untuk cicil mobil. Belum seminggu kami membelinya. Waktu tersisa 30 menit untuk bertemu orang penting.

Saya pamit pada istri dan segera memacu keluar parkir dan area kampus UIN. Saya lihat kondisi jalan sudah aman untuk mengorbit di jalan raya A. Yani. Begitu moncong mobil berada di lajur 1 jalan raya, sebuah bis kota dengan deras menabrak bagian depan mobil yang STNK-nya saja belum keluar itu. Bumper depan remuk dan berhamburan di aspal. Kernet bis terlihat tercengang. Bis itu berhenti. Tak ada penumpang turun atau naik. Sopir bis berteriak-teriak pada si kernet untuk masuk ke bis. Kabur.

Waktu tersisa 20 menit, saya punya dua pilihan: mengejar bis itu untuk minta ganti atas kerusakan mobil baru saya atau bertemu orang penting itu. Segera saya masukkan bumper yang berhamburan di atas aspal yang panas itu, dan saya memilih untuk mengejar waktu bertemu si orang penting ini, yang saya sendiri belum pernah bertemu!

Sekitar dua menit untuk mendandani wajah saya di toilet hotel. Saya harus buang segala pikiran tentang kecelakaan itu. Melupakannya. Tepat di waktu yang ditentukan, saya mengirim SMS kepadanya bahwa saya sudah di lobi. Sekitar tiga kemudian dia turun: Lelaki bule, besar tapi tidak tinggi, rambut pirang yang sebagian besarnya telah memutih, langkahnya mantab berkharisma, tatap matanya tajam tapi menyajikan keteduhan. Saya menyambutnya, berjabat tangan dan perkenalkan diri. Dia membalasnya: Robert Kingham.

Dialah Robert Kingham, saat itu dia adalah Technical Advisor untuk program Learning Assistance Program for Islamic Schools (LAPIS). Program itu banyak sekali inisiatif dan kegiatan yang dilaksanakan secara swakelola maupun dikerjsamakan dengan pihak lain. Oleh karennaya, kita mengenal LAPIS Inovasi dengan berbagai ide kreatif dan inovatif, LAPIS Integrasi yang menjadi piloting pada AEPI C3, LAPIS ELOIS, LAPIS PGMI, dan LAPIS ELTIS. Betul. LAPIS seperti kue lapis, terdiri berbagai lapisan-lapisan manis yang menjadi sebuah kesatuan. Saya bisa mengatakan, Pak Rob – demikian dia sering dipanggil – adalah titik episentrum dalam pengembangan pendidikan Islam dalam program LAPIS itu.

Sudah hampir 30 tahun di dunia pendidikan Islam. Pondok pesantren KH Abdurahman Ambo Dalle adalah tempat pertamanya, sebuah tempat di kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, untuk bertugas sebagai sukarelawan pembelajaran Bahasa Inggris, pada tahun 1987. Beliau sangat dekat dengan keluarga KH Abdurrahman Ambo Dalle, pendiri Darud Dakwah wal Irsyad (DDI). Tidak heran, keluarga besar DDI begitu mengenal sosok beliau ini, bahkan diaku sebagai salah satu putra sang kyai.

Bapak Komaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam, yang juga alumni program pembibitan tersebut menyatakan Pak Rob punya peran besar dalam Program Pembibitan Dosen Perguruan Tinggi Islam (PTAI) untuk dikirim studi S2 atau S3 ke luar negeri. Tentu beliau juga punya peran yang signifikan dalam program Kemitraan Pendidikan Australia Indonsia ini.

————————————

Secara personal, saya melihat Pak Rob adalah seorang mentor yang baik dalam pengembangan kapasitas diri. Seorang guru yang bisa menunjukkan sebuah jalan solusi masalah program dan kehidupan, yang bisa among dan pada saat yang sama bisa marah. Terkadang, dia seperti seorang bapak, terkadang sebagai seorang penegak hukum.  Adalah yang biasa bila sebuah relasi naik turun, apalagi pada periode-periode kritis. Itulah dinamika. Itulah manusia, manusia yang hidup, manusia yang bergerak untuk maju.

Dalam setiap kita saat berkiprah dalam dunia profesional, ada unsur-unsur professional judgments, ada personal interests, ada gossip, hingga unsur gurauan. Disadari atau tidak, keempat unsur itu selalu hadir silih berganti. Nah, Pak Rob bisa menghaluskan keempatnya sehingga saya (kita?) sering kesusahan untuk membedakan mana dari keempat unsur itu yang sedang dia mainkan. Suatu kali, saya pernah marah sekali pada beliau, dan saya sampaikan kepada beliau tentang perasaan saya. Rupanya, setelah saya betul-betul melihat konteks ungkapan beliau yang membuat saya marah itu, saya baru sadari bahwa dia sedang menyampaikan sebuah candaan. Sebuah candaan yang saya tangkap sebagai sebuah professional judgement-nya.  Nah pada titik ini, saya tidak tahu apakah ini kelebihannya atau justru kelemahannya.

Mungkin, kawan-kawan akan banyak sekali menyerap pelajaran saat bersama beliau. Ada beberapa hal yang sangat saya sukai pada nasihat-nasihat yang keluar darinya: “Enjoy your life”, bahwa kita hidup dan berhak untuk menikmati hidup kita. Caranya? Cari pekerjaan yang kita sukai, karena di sana ada dedikasi, ada passion, ada komitmen pada mutu, ada proses yang setiap titiknya kita pelajari, dan ada hasil-hasil yang bisa kita banggakan dan kita rayakan. Namun, di sisi lain, beliau berpesan, “Jangan sampai pekerjaan kita membuat bercerai dengan suami atau istri kita.” Lihatlah cara kerja tim Komponen 3, betapa kawan-kawan di C3, SNIP dan Madrasah, mereka bekerja punuh semangat, dedikasi, berkomitmen pada mutu dan seterusnya, sehingga banyak dari mereka yang bekerja ekstra waktu, ektra tenaga, ekstra konsetrasi dan seterusnya, dengan cara mengurangi waktu yang berkualitas untuk keluarga, untuk orang-orang terkasih. Pada saat itulah, dia berujar, “keep your life well balanced”, kita harus imbangkan hidup kita: antara professional dan personal, orientasi proses dan hasil kerja yang bermutu dengan kesehtan jasmani dan mental, dan seterusnya, dan selanjutnya.

————————————–

Kawan-kawan di C3 dan Kemitraan Pendidikan lintas komponen di Jakarta telah menerima email berikut ini – mungkin juga kawan-kawan SNIP.

[ …………….

Thankyou for a terrific almost 5 years, and in the case of Cardno 16 years! – almost to the day. It has been an honour and a privilege to work with you all.

 

sampai jumpa lagi,

 

Rob

………….]

Ya. Itu cuplikan email Pak Rob. Itu sebuah ungkapan berpisah.

————————

11.03.2016. Hari ini adalah hari terakhir saya bertemu dan bersama dengan Pak Rob untuk program Kemitraan Pendidikan Australia Indonesia, saat mendampingi kunjungan para editor senior media massa Australia yang berkunjung ke madrasah sasaran untuk melihat proses pembelajaran dan pendidikan agama Islam di madrasah.

“Berat meninggalkan madrasah.  Oh ya, berat sekali. Hampir 30 tahun. Hampir separuh hidup saya di pendidikan Islam di Indonesia” ungkapnya. Saya menyadari, tak banyak orang bule yang tinggal cukup lama di pesantren. Dari yang tidak banyak itu adalah Robert Kingham salah satunya. Saya memeluknya sebagai tanda pisah. Dalam. Erat.

“He will be back,” kata Jacky, manajer Cardno, saat memberikan sambutan pada farewell untuk Pak Rob. Diam-diam, dalam hati saya berujar, “Amin”.  Bahkan secara egois, hati saya berkata ‘dia harus kembali di sini, di Indonesia’.

Satu hal yang belum saya sampaikan secara khusus: Terima kasih, Pak Rob.

——————-

Semoga kita tetap mampu menyebarkan banyak manfaat kepasa sesama. Dan beristiqomah tentangnya.

 

Mokhamad Iksan