Membangun Tim, Membangun Nilai

Pada saat saya dinyatakan lolos uji untuk posisi saat ini di Kemitraan Pendidikan Australia Indonesia (Komponen 3/C3: Akreditasi Madrasah), sejenak saya berpikir. Berapa orang yang akan menjadi anggota tim saya. Saat itu, tidak dijelaskan berapa orang yang harus saya koordinasikan di tingkat propinsi. Tempo itu, belum muncul dalam benak saya, berapa jumlahnya dan apa peran orang-orang yang harus saya koordinasi itu. Kala itu juga, informasi yang saya dapatkan adalah C3 akan merekrut lembaga mitra daerah di 7 propinsi sasaran. Secara internal, nama lembaga itu adalah SNIP (Sub-National Implementing Partners).
Titik.

Alasan kenapa saat itu saya sangat ingin mengetahui berapa jumlah orang yang harus koordinasi saya adalah JUMLAH itu penting. Bagi saya, dengan mengetahui berapa jumlah aggota tim akan bermakna bagaimana dan seberapa banyak komunikasi, koordinasi, supervisi, motivasi, monitoring dan evaluasi yang harus saya lakukan. Semua kerja itu harus dilakukan di 7 propinsi, dengan kondisi dan latar belakang organisasi mitra yang berbeda.

Ternyata, seminggu setelah saya bergabung di C3 belum juga ada kepastian berapa orang yg harus saya koordinasi. Daripada pusing mikirin berapa orang, saya berpikir kenapa tidak membuat daftar nilai-nilai dan budaya apa saya yang perlu saya kembangkan dalam tim saya. Tujuannya hanya satu: membangun TIM HANDAL dalam memulai perubahan di madrasah. Lalu, saya sibuk kembali dengan buku-buku untuk mencari landasan teori, best practices, atau mencari inspirasi mengelola perubahan (managing change), yang merupakan salah satu area dalam manajemen organisasi: manajemen perubahan (change management).

Saya buka lagi literatur. Akhirnya, saya sampai pada “Beyond Change Management” oleh Dean Anderson dan Linda Anderson. Bagi mereka, organisasi pemetik sukses selalu melakukan penyetaraan (alignment) pemahaman, kemauan, dan tujuan bersama. Mereka membangun rasa saling percaya, saling mendukung dan saling berbagi. Semua komponen di dalamnya memiliki komitmen dan kesabaran dalam meraih tujuan. Setiap orang diberi ruang inovasi, tanggung jawab, memahami peran masing-masing. Di dalamnya, arus informasi dibuka dan keputusan dibuat secara partisipatif. Setiap orang di dalamnya diminta dan diberi kesempatan membangun integritasnya, berorientasi belajar, memaafkan tindakan kesalahan penanganan implementasi, dan berdedikasi pada peningkatan kualitas diri dan organisasi. Dan bagi dua Anderson ini, tantangan semua itu adalah bagaimana semua orang menjalani proses-proses organisasi itu dengan ceria, FUN. Semua orang tersenyum, semua orang gembira dan hasilnya tercapai.

Sejenak, saya tutup buku itu. Saya buka, lalu saya tutup. Buka, tutup. Oke, cukup! Kedua penulis itu memberi cerita indah tentang membangun organisasi pemetik sukses dan tim yang handal. Tak ada rugi untuk mewujudkannya, dan hanya satu nilai baik bila ijtihad ini salah. Sekarang, segera wujudkan.
Bismillah.

—————-
Setelah lima bulan bersama Tim SNIP saat ini, saya belum tahu apa saya sudah cukup memadai memasukkan nilai-nilai itu dalam proses berorganisasi. Terlebih, saya tidak tahu apakah nilai-nilai itu telah membudaya. Pada saatnya nanti saya akan tahu, atau diberitahu. Terlepas dari cerita balik layar itu, Tim SNIP kita saat ini adalah tim yang handal dan bisa dihandalkan. Saya senang dan bangga bekerja dengan Anda semua.

Salam sukses!

91 thoughts on “Membangun Tim, Membangun Nilai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *