previous arrow
next arrow
Slider

Konsorsium Peningkatan Mutu Pendidikan (EQuIC)

Sebuah Koperasi, mungkin sistem itu dipergunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan? Konsorsium Peningkatan Mutu Pendidikan (Education Quality Improvement Consortium - EQuIC) adalah sebuah wadah bersama lembaga-lembaga dan individual untuk meningkatkan mutu pendidikan sasuai dengan 8 Standar Nasional Pendidikan, secara mandiri. Peningkatan mutu pendidikan tidak boleh diasandarkan pada uluran tangan pemerintah atau lembaga donor semata. Lembaga-lembaga pendidikan perlu didorong untuk tidak menyiakan waktu dengan menunggu uluran tangan itu. Ada bantuan lebih baik, namun bila tak ada sekolah dan madrasah harus tetap maju secara mandiri.

Caranya? Sekolah dan madrasah harus berserikat dan membangun sebuah sistem yang mandiri dalam merumuskan, menyusun, membiayai, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi program peningkatan mutu pendidikannya. Sebagaimana sebuah koperasi, program peningkatan mutu pendidikan berasal dari simpanan wajib dan pokok dari setiap sekolah dan madrasah.

Sederhananya, Rp 200 ribu tidak akan cukup melatih tiga orang guru sekolah. Tapi, bila Rp 200 menjadi iuran wajib 20 lembaga pendidikan, maka nilai itu akan dapat menyediakan sebuah in-school training, sebuah pelatihan di sekolah/madrasah untuk meningkatkan (misalnya) kompetensi mengajar sekitar 3-4 orang guru, atau program implementasi Kurikulum 2013.

Improving Education | Developing Community

Gallery

Selamat Hari Pendidikan Nasional
2 Mei 2021
...

There is only one Earth. Let's take care of it.

#earthday #earthday2021
...

Guys, claim your seats! Limited offer. ...

Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga Anda bahagia dan mendapat kemakmuran. Semoga semua harapan Anda menjadi kenyataan. ...

Pada tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi resolusi A/RES/70/212 yang mendeklarasikan 11 Februari sebagai Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains. Fokus perayaan ini adalah kenyataan bahwa sains dan kesetaraan gender sama vitalnya untuk mencapai tujuan pembangunan internasional, termasuk Agenda Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) 2030.
Secara global, jumlah ilmuwan perempuan masih kalah jauh dibanding ilmuwan laki-laki. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2017, tenaga kerja perempuan di sektor STEM hanya 30%. Meskipun pelajar perempuan mendominasi jurusan Sains seperti Biologi, Kimia, Farmasi, dan Kedokteran, tidak banyak yang melanjutkannya sampai ke dunia kerja atau menekuni bidang-bidang tersebut sebagai peneliti.
Mengapa?
Salah satu penyebabnya adalah budaya yang menciptakan stereotip gender sehingga membatasi gerak atau pilihan karir perempuan. Selain itu, fasilitas sains (misalnya, laboratorium) perlu lebih ramah dan aman bagi perempuan. Sedikitnya jumlah perempuan dalam sebuah komunitas ilmuwan juga berpotensi membuat perempuan dimarjinalkan.
Agar lebih banyak lagi perempuan yang berkecimpung di bidang sains, perlu sistem yang mendukung perempuan untuk lebih mudah menjalankan peran dan profesi yang diinginkannya, seperti pembagian peran domestik yang adil, fasilitas yang ramah perempuan, dan perlakuan yang setara pada ilmuwan laki-laki maupun perempuan. Tentu saja, diperlukan juga role models (panutan) ilmuwan perempuan yang dapat menginspirasi lebih banyak lagi peserta didik perempuan untuk menjadi profesional di bidang Sains.
#womenandgirlsinscience #perempuandalamsains
...

Ayoo bergabung...!! ...

The last session, the last puzzle.

Come and join us!
...

The last session of scholarship series... come and join us, youths..! ...

Selamat Hari Disabilitas Internasional
2020
...

Come and join us! ...

Video

Sejarah berdirinya EQuIC

News