Dalam acara audiensi dengan Bupati Bojonegoro Bapak Suyoto (yang dihadiri sekitar 30 orang dari DFAT, C3, SNIP, Kemenag dan tim Pemkab), ada cerita menarik yang disampaikan oleh pak Bupati. Dia akan melakukan kunjungan di pagi hari. Dia menentukan kunjungan ke daerah yang tergolong miskin di area kerjanya, agenda pertamanya bertemu dengan warga sebuah sekolah. Di sekolah ini, para guru belum hadir walau para murid sudah berkumpul.
Yang jadi masalah adalah semua gurunya tidak berasal dari daerah minus ini. Sebuah masalah yang lazim ditemui pada kepala daerah: distribusi tenaga pengajar yang tidak berimbang. Karena para guru belum hadir, dia pun melakukan pertemuan dengan masyarakat sekitar dan wali murid. Tujuannya addalah menyerap aspirasi dari lapisan masyarakat bawah.
Beberapa hal yang ditanyakan pak Bupati, diantaranya, adalah Kenapa masyarkat di sini betah tinggal di daerah minus? Kenapa masih mau tinggal di sini? Apa program pemkab sudah dirasakan? Jawaban beragam disampaikan warga. Mereka bilang bahwa tanah yang didiami itu adalah tanah leluhur, tak mungkin ditinggalkan. Dengan sumber daya yang ada dan seadanya, mereka harus hidup dan harus tetap bersemangat, demi anak-anak. Program pemerintah sudah mulai dirasakan, seperti sektor pertanian dan peternakan. “Ada semangat untuk maju,” ujar sang bupati.
Tak berapa lama, para guru berdatangan. Mereka langsung terlibat dalam program penyerapan aspirasi ini. Para guru ini menyampaikan, betapa beratnya tugas untuk memingkatkan mutu pendidikan, dengan menjelaskan minimnya kondisi sarana prasaran sekolah, kualitas SDM hingga hambatan jarak tempat tinggal guru ke sekolah. Merasa menemukan forum yang tepat, para guru menumpahkan semua curhatan hati dan keluh kesah mereka, dengan harapan semua masalah pendidikan yang mereka hadapi, segera diatasi oleh pemerintah kabupaten.
“Dari kunjungan ini, saya bertanya-tanya ada apa dengan sistem pendidikan kita?” tanya Bupati. Warga masyarakat yang miskin itu dan tinggal di daerah minus, sudah bersemangat untuk maju, dan program pemerintah datang untuk memperkuat mereka. Mereka siap untuk bekerja keras. Begitu para guru datang, kok yang muncul malah keluhan semua. “Lha kalau mereka banyak mengeluh, apa hal-hal seperti itu yang diajarkan kepada anak-anak?”
Beberapa dari peserta audiensi merasa lucu. Saya justru terdiam, serasa dipentung kepala saya.
Ini semua adalah karena sebuah buku sehingga saya ingat cerita Bupati itu: “Handbook or Moral and Character Education” yang disunting oleh Larry P. Nucci dan Darcia Narvaez. Dalam pengantarnya, kedua penyunting menyajikan data hasil survey sepuluh tahun lalu (1994). Dalam survey itu ditemukan, untuk pendidikan karakter anak-anak mereka, sebanyak 97% masyarakat Amerika inginkan karakter kejujuran, 94% ingin karakter yang menghormati orang lain, 93% berkarakter demokratis, dan 93% menekankan karakter penghormatan pada masyarakat dari ras dan latar yang berbeda. Saya tidak akan bicara banyak tentang pendidikan karakter.
Banyak sekali perdebatan tentang pendidikan karakter dengan background filosofis dunia Barat, seperti pendidikan Karakter untuk menjadi pemimpin dan membuat keputusan; karakter mengatasi rasa frustasi dan amarah; karakter menjadi jujur dan adil; karakter resolusi konflik; karakter mengelola tanggung jawab; karakter menghadapi tekanan sejawat; karakter mengatasi bullying; dan seterusnya.
Nah yang membuat saya menarik cerita Bupati itu dengan buku ini adalah temuan survey itu menyatakan bahwa 80% negara bagian di Amerika memandatkan adanya pendidikan karakter di sekolah. Yang artinya, tugas itu lebih banyak dibebankan ke sekolah. Kemudian, saya juga merenungkan betapa banyaknya muatan-muatan sejenis dalam kurikulum pendidikan nasional kita. Kita punya banyak mata pelajaran yang menyangkut pendidikan karakter, pendidikan akhlak, terlebih dalam pelajaran agama. Bila kemudian kita punya banyak mata pelajaran, namun pada prakteknya banyak tawuran pelajar, bullying, aborsi/nikah dini di usia pelajar, narkoba dan seterusnya, apa yang salah dengan semua ini?
Pertanyaan saya, hanya sebagai contoh, bila dalam mata pelajaran PPKn diajarkan tentang kerja keras, namun dengan guru yang sering mengeluh seperti cerita Bupati itu, kira-kira anak dididik akan seperti apa? seperti yang di buku atau yang dipraktekkan guru?
Sebagai warga masyarakat, sebagai orangtua, kita juga harus bertanggung jawab akan seperti apa karakter anak-anak. Setidaknya, untuk anak-anak kita sendiri.
Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat.
Salam Teamwork (Reliability-Respect-Honesty-Empowering-Focus)

The male partner can produce a fresh specimen at CRM s Andrology Laboratory on the day of the procedure priligy otc Marco LhDjLxWQgMeVjasgad 6 17 2022
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks! https://accounts.binance.bh/register/person?ref=JW3W4Y3A
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.