Bersabar untuk Konsisten Membangun Mutu

Beberapa waktu yang lalu saya menerima tamu, kerabat yang lama tak berjumpa. Kami saling bertukar cerita. Dengan sedikit modifikasi, saya ceritakan kembali kisah dari saudara saya itu. Kerabat saya ini punya tetangga yang cukup berumur, giginya tinggal satu di depan-atas. Saudara saya menyarankan untuk mencabutnya, dan mengganti dengan gigi palsu. Si tetangga menolak saran itu mentah-mentah. Pasalnya, gigi itu cuman satu semata wayang. Tak mungkin mencabutnya. Setelah dibeberkan alasan fungsional, estetika, dan ketampanan oleh saudara saya itu, si tentangga akhirnya mau mencabut gigi itu. Urutannya, dicabut lalu diganti gigi palsu.

Esoknya, mereka ke ahli gigi. Agak aneh juga bagi saya, kenapa ke ahli bikin gigi, dan bukannya dokter gigi, bisa jadi aasan dana. “Pak, saya mau cabut gigi saya ini,” kata si tetangga itu. Setelah diperiksa, dicabutlah gigi itu. Setelahnya, si tetangga itu minta ke ahli gigi untuk dibuatkan gigi palsu. “Waduh, pak. Berat itu!” kata si ahli gigi terkaget-kaget. Harusnya dibilang di awal kalau mau pasang gigi palsu. “Kalau kayak gini, pekerjaan saya jadi berat. Seandainya gigi yang cuman satu itu masih tertanam, saya bisa jadikan patokan untuk ikat gigi palsunya, dan saya bisa ukur panjang gigi Bapak, sesuai dengan kontur mulut Bapak,” jelas si ahli gigi.

“Harrah!! Kalau sudah seperti ini gimana dong?” si tetangga protes bercampur bingung. Setelah diskusi berapa lama dan periksa berulang-ulang, akhirnya disepakati untuk membuat dan memasangkan gigi palsu untuk si bapak itu. Dan.. taarraaaa….! Akhirnya, gigi itu terpasang. Si tetangga dengan malu-malu bercermin dan senyam-senyum sendiri. “Seminggu lagi, datang pak. Untuk periksa,” pinta si ahli gigi. Setelah membayar, keluarlah saudara saya itu dan tentangganya.

Esok pagi harinya, si tetangga ketok-ketok pintu saudara saya itu. “Antarkan aku kembali ke ahli gigi itu!” ajak si tetangga. Kenapa, memangnya bengkak atau kenapa? tanya saudara saya. “Sudah, antarkan aku!” ajak si tetangga, yang matanya merah. Begitu sampai di tempat dan langsung menjadi pasien pertama, si ahli gigi bertanya, “Ada apa, pak?” Dia khawatir ada masalah medis terkait dengan pencabutan giginya itu, maklumlah di bukan seorang dokter.

“Saya tak bisa tidur!” ungkap si tetangga itu.

Kenapa?

“Mulut saya ini PENUH!! Saya tak bisa tidur!”

Dalam hati, si ahli gigi bersyukur masalah yang ada bukanlah seperti yang dia khawatirkan. Kemudian si ahli gigi yang berpengalaman ini menjelaskan kepada si tetangga, “Pak, sampean sing sabar ya… Allah menumbuhkan gigi bayi itu satu per satu. Itu pun, seorang bayi harus menjalani demam, suka ngiler, tidak suka makan, suka gigit, bikin orang tuanya susah tidur dan galau, dan seterusnya. Itu hanya untuk satu gigi, seorang bayi itu menderita banyak sekali dan lama. Lha, sampean ini minta gigi langsung utuh atas dan bawah. Masih mending sampean merasa mulutnya penuh, lha kalau prosesnya seperti bayi itu, sampean mau apa? Dengan kondisi saat ini, saya tidak bisa membantu banyak. Bapak harus bersabar untuk membiasakan diri dengan gigi baru sampean”.

Akhirnya, saudara saya dan tetangganya itu balik kanan. Sebelum keluar, si ahli gigi bilang, “Pak, coba sampean ke sini”. Si ahli gigi dan tetangga itu berdiri di depan cermin. “Sekarang, tersenyumlah…. Nah, ganteng kan?” Si tetangga itu tersipu.

——-

Kawan-kawan tentu bisa mengambil banyak hikmah dari cerita itu, utamanya terkait dengan program peningkatan mutu madrasah yang sedang kita jalani ini. Sama seperti si tetangga itu yang ingin punya gigi lengkap dan terlihat lebih muda, madrasah juga pasti ada keinginan untuk lebih maju, lebih bermutu. namun banyak orang/madrasah yang ining maju, tapi tak tahu bagimana caranya. Ada yang mau dan tahu caranya, tapi tak bisa memulainya. Ada yang ingin maju, tahu caranya, paham cara memulainya, tapi tak ada kemampuan untuk melaksankannya. Ada juga yang tahu visi, misi, tujuan dan rencananya, tahu dan berkecakapan untuk meniplementasikannya, memonitornya.. tapi ada yang tak sabar, sama seperti si tetangga itu.

Kesabaran yang saya maksud, tentu bukan kesabaran untuk menghadapi dan menerima musibah, baik di level personal, organisasional, maupun komunal seperti bencana alam. Kesabaran juga diperlukan untuk selalu istiqomah, untuk konsisten, untuk setia sepenuh hati pada visi, misi, tujuan, dan rencana kerja yang yang disepakati bersama. Kesabaran untuk istiqomah ini akan selalu meningkat tuntutannya, dari waktu ke waktu, dari tahap awal ke tahap selanjutnya, dari bagian ke bagian yang lain, dari satu daerah ke daerah yang lain, dari satu jenjang ke jenjang berikut, dan seterusnya dan selanjutnya.

Dalam teori Organizational Development (OD) yang misalnya ditulis oleh Clare Huffington, Carol Cole, & Halina Brunning dalam “A MANUAL OF ORGANIZATIONAL DEVELOPMENT The Psychology of Change” (1997), kesabaran ini berada di sektor intrapersonal skill, dan itu diperlukan oleh kita selaku pendamping/konsultan/fasilitator madrasah. Sayangnya, hampir semua buku yang sempat saya baca, tidak spesifik berbicara tentang pentingnya kesabaran itu, baik di level pendamping maupun pelaksana program OD. Padahal ini penting sekali. Kenapa?

Pertama, dalam Quran, ada 103 kata sabar, dalam bentuk kata kerja dan kata benda, untuk menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya ataupun kesabaran untuk menerima takdir-Nya. Banyaknya penyebutan kata sabar itu menandakan, kita manusia ini sering berlaku tidak sabar. Kalau ngga percaya, mungkin jari kita tidak cukup untuk menghitung berapa kali kita tidak bersabar (dalam tiga konteks di atas) dalam sehari saja?

Kedua, kesabaran itu juga penting dalam organisasi. Alasannya, organisasi itu bertumpuknya manusia untuk mencapai tujuan bersama. Dalam program kita, semuanya berurusan dengan manusia yang berbeda latar belakang, keinginan, kepentingan dan seterusnya. Misal saja pada fase ‘storming’ dalam pembentukan tim kerja, kesabaran semua komponen itu penting agar tercapai sebuah resolusi konflik yang terjadi. Sehingga transisi menunju ‘performing’ menjadi cepat dicapai dan berlangsung lembut.

Saat kawan-kawan ke madrasah, sekali-kali perlu bertanya atau memperhatikan para stakeholder madrasah, yang mengalami kondisi psikologis yang sama dengan si tetangga yang saya ceritakan di atas. Begitu mengetahui caranya untuk maju, dan dibekali dengan pelatihan-pendampingan-dana hibah, madrasah terlihat bersemangat untuk maju dan berkembang. Ini bagus. Namun, kita juga perlu memperhatikan, apakah ada yang merasa terburu-buru untuk mencapai kemajuan itu, atau percaya bahwa madrasah maju bisa dibuat dalam waktu satu bulan? Bila ada, segeralah kita persiapkan bahwa orang yang terburu-buru itu akan segera merasa “penuh”, kewalahan, capek, stress, dan seterusnya. Namun, terlalu lambat juga bukan berarti menunjukkan kerja dengan kesabaran, bisa jadi karena malas, dan itu jelek.

Apa yang perlu kita lakukan adalah, secara organisasional, kita bisa menyeru orang-orang seperti itu untuk kembali ke perencanaan kerja dan jadwal kerja. Ini cara yang sederhana, operasional dan mudah. Secara teori, perubahan organisasi (baik secara reformatif, tranformatif, maupun revolutif) itu ada tahapan-tahapannya, dan prosesnya akan berjalan secara gradual, secara perlahan-lahan, secara selangkah demi selangkah. Sulit mewujudkan perubahan terjadi dalam waktu yang singkat, apalagi hanya sebulan. Kenapa? karena yang kita bangun bukan hanya fisik, tapi juga cara pandang, sistem, sikap dan budaya baru yang jauh lebih maju.

Ilustrasinya begini. Hanya perlu sebulan untuk mengecat kelas, memperbaiki bangku dan kursi siswa, melengkapi media ajar yang PAIKEM. Tapi, untuk membantu SATU orang anak saja untuk mendidiknya agar lulus ujian, membuat berpikir kritis, mengembangkan semua potensinya, memiliki raga yang sehat, membangun sikap yang positif, memperkaya dengan budaya yang maju adalah pekerjaan yang butuh waktu panjang, bahkan bertahun-tahun, dan membutuhkan bukan hanya seorang guru, tapi masyarakat satu kampung, bahkan satu negeri. Hal yang sama juga diperlukan untuk kepala madrasah, guru dan warga madrasah yang lain.

Kerja peningkatan mutu madrasah yang kita lakukan saat ini begitu besar, begitu kompleks. Mari kita bersabar.

Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat.

 

Salam Teamwork (Reliability-Respect-Honesty-Empowering-Focus)

15 thoughts on “Bersabar untuk Konsisten Membangun Mutu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *