Inovasi & Kreatif : Sesuatu yang Masih Langka

Saat mereview proposal SNIP Tahap 1 untuk program kegiatan dan anggaran dari dana yang tersisa, saya terhenti sejenak mengamati istilah “Program Inovasi”. Tentu semua SNIP tahu yang dimaksud dengan istilah ini dalam kacamata program kerja dan anggaran, yakni, program kegiatan dan anggaran peningkatan mutu madrasah yang tidak “diwajibkan” oleh AEPI C3, dalam bentuk kegiatan yang beragam dan berbeda antar SNIP, seperti menulis kreatif, manajemen keuangan siswa, jurnalistik dan sebagainya.

Yang membuat saya bertanya-tanya, apakah betul bahwa kegiatan inovasi itu adalah sebuah INOVASI? ataukah, jangan-jangan hanya mencontek kegiatan di tempat lain atau di lembaga lain yang kemudian distempel itu kegiatan SNIP?

Pikiran saya kemudian lalu dipenuhi berbagai pertanyaan yang beranak pinak. Apakah akan ada inovasi bila kita (SNIP, C3, madrasah, wa’ala ashaabihim wa furu’ihim) tidak kreatif? Lalu apa KREATIFITAS itu? Dalam pendekatan PAIKEM, apa yang dimaksud pembelajaran kreatif? Aduh! Saya tuntaskan dulu review proposal ini, lalu saya akan cari tahu jawabnya nanti. Tentu, pencarian saya lebih bersifat terminologis, secara istilahi, bukan secara program dalam konteks Kemitraan Pendidikan ini.

Rupanya, kata ‘nanti’ itu beberapa hari setelah review saya usai, itu pun saat saya berada di perjalanan ke daerah. Ya.. kemana lagi saya harus bertanya kalau bukan ke buku. Judunya adalah “How to Develop Student Creativity” oleh Robert J. Sternberg dan Wendy M. Williams (1996). Dalam buku ini, Sternberg dan William mengambil teori bahwa kreatifitas itu dibagi menjadi tiga; pertama, kemampuan sintetik (synthetic ability) yakni sebuah kemampuan untuk memunculkan ide-ide baru dan menarik; kedua, kemampuan analitik (analitic ability) yang bermakna kemampuan sesorang untuk berpikir kritis untuk menganalisa dan mengevaluasi ide; dan ketiga, kemampuan praktikal (practical ability) adalah kemampuan menerjemahkan teori ke dalam praktek, ide yang abstrak mewujud dalam karya.

So, seseorang akan disebut benar-benar kreatif bila mampu mengabungkan tiga kemampuan ini secara berimbang. Singkatnya, kreatifitas itu terdiri dari tiga unsur kemampuan tersebut.

Bagaimana caranya agar kita menjadi kreatif? Nah, ini penting untuk kita, apalagi bagi kawan-kawan yang berprofesi sebagai pendidik. Sternberg dan William mebuat daftar 25 cara untuk mengembangkan kreatifitas. Saya tidak akan menjelaskan semua langkah-langkah itu. Dalam kesempatan ini, Bagian Satu (The Prerequisites) saja yang akan saya share dengan kawan-kawan di sini.

Setiap sesuatu perlu prasyarat sebelum hal yang kita inginkan tercapai. Sebelum menjalankan rukun sholat, ada syarat sah sholat yang harus dipenuhi. Hal yang sama juga terjadi untuk kretifitas. Ada prasyarat yang harus tersedia untuk membangun kreatifitas, utamanya anak didik kita.

Menurut Sternberg dan William, sebagai bagian dari prasyarat kreartifitas itu, cara yang paling ampuh untuk mengembangkan kreatifitas anak adalah menyajikan teladan atau role model. Anak-anak akan berkembang kreatifitasnya, bukan karena kita memintanya melakukan sesuatu, tapi memodelkannya bagaimana sesuatu itu dilakukan dan diciptakan. Mau bukti? Coba kawan-kawan mengingat siapa guru yang paling diingat dan dikenang saat ini dan kenapa dia diingat dan dikenang? Apakah lebih karena isi ceramahnya atau karena caranya berceramah atau menyampaikan topik yang diingat dan ditiru? Nah, di situlah teladan atau role model guru itu mengambil peran dalam kreatifitas kita.

Kedua, kreatifitas muncul bila anak didik diberi ruang untuk membangun rasa percaya diri mereka. Setiap ruang ada batasnya, tapi jangan kita yang membatasi ruang kreatifitas itu. Batasan kreatifitas apa yang BISA anak-anak lakukan adalah apa yang mereka pikir TIDAK BISA dilakukan. Jadi mereka yang menentukan batasan, bukan kita. Nah tugas kita untuk menumbuhkan kreatifitas itu adalah bila mereka yakin bisa melakukan maka doronglah mereka mengeluarkan segala ide, pikiran dan kerja mereka untuk berkarya.

Lalu, apa selanjutnya? Selanjutnya, saya hanya memberikan daftar dari Sternberg dan William berikut ini saja. Saya kuatir, saya menghalangi kreatifitas berpikir Anda. Ah, Tidak. Bukan itu alasan yang sebenarnya. Saya sedang capek, ingin istirahat dan minum kopi saya.

Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat.

 

Salam Teamwork (Reliability-Respect-Honesty-Empowering-Focus)

——————–

 

25 WAYS TO DEVELOP CRATIVITY

Robert J. Sternberg & Wendy M. Williams (1996)

 

THE PREREQUISITES

1. Modeling Creativity

2. Building Self-Efficacy

 

BASIC TECHNIQUES

3. Questioning Assumptions

4. Defining and Redefining Problems

5. Encouraging Idea Generation

6. Cross-Fertilizing Ideas

 

TIPS FOR TEACHING

7. Allowing Time for Creative Thinking

8. Instructing and Assessing Creativity

9. Rewarding Creative Ideas and Products

 

AVOID ROADBLOCKS

10. Encouraging Sensible Risks

11. Tolerating Ambiguity

12. Allowing Mistakes

13. Identifying and Surmounting Obstacles

 

ADD COMPLEX TECHNIQUES

14. Teaching Self-Responsibility

15. Promoting Self-Regulation

16. Delaying Gratification

 

USE ROLE MODELS

17. Using Profiles of Creative People

18. Encouraging Creative Collaboration

19. Imagining Other Viewpoints

 

EXPLORE THE ENVIRONMENT

20. Recognizing Environmental Fit

21. Finding Excitement

22. Seeking Stimulating Environments

23. Playing to Strengths

 

THE LONG-TERM PERSPECTIVE

24. Growing Creatively

25. Proselytizing for Creativity

18 thoughts on “Inovasi & Kreatif : Sesuatu yang Masih Langka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *