Merubah Mindset “BANTUAN”

Dalam satu kesempatan kunjungan di Banten dan Jawa Tengah akhir tahun lalu, saya dan Bu Luluk sempat mampir di beberapa madrasah sasaran Tahap 1, baik MI maupun MTs. Kami menanyakan apa yang dirasakan oleh stakeholder madrasah. Madrasah sasaran Tahap 1 merasakan manfaat program yang sangat berguna bagi peningkatan mutu madrasah. Perubahan mulai dari majemen, tenaga pendidikan dan partisipasi masyarakat. Kemajuan yang dialami madrasah sangat jelas hasilnya.

Progres Madrasah ditandai dengan peningkatan jumlah siswa baru (enrollment) untuk kelas1 dan kelas 7, guru mengajar lebih aktif dan kreatif, kurikulum sudah disusun secara mandiri, penyusunan KRM berdasarkan EDM, Fasilitas sudah direnovasi cukup memadai. Madrasah sasaran sudah menjadi rujukan madrasah sekitar untuk mempersiapkan visitasi akreditasi oleh BAP.

Alhamdulillah, secara nasional madrasah kita di Tahap 1 yang divisitasi BAP adalah 92% meraih A dan B, sisanya C, dan hanya satu madrasah yang mendapat TT. Prestasi yang patut kita banggakan. Namun begitu, kita juga perlu tahu kenapa program ini sangat efektif hingga mencapai angka itu, dan pada saat yang sama kenapa masih ada C, dan bahkan ada 1 madrasah yang TT. Kita perlu tahu, kenapa semua ini terjadi, apa yang bisa kita pelajari hingga program Kemitraan Pendidikan ini semakin efektif dan bagaimana menghindarkan madrasah dari penilaian TT dalam mutu layanan pendidikan mereka ke anak-anak didiknya.

Dalam kunjungan ini, saya ingin tahu persepsi madrasah tentang sebuah bantuan Kemitraan ini dan apa yang mereka lakukan setelah program ini berakhir. Saya bertanya “Apa yang akan dilakukan setelah berakhirnya program Kemitraan Pendidikan di madrasah ini?”. Jawaban yang diberikan madrasah perlu perhatian lebih serius dari kita, karena menunjukkan bukan hanya persepsi terhadap program Kemitraan ini, lebih dari itu kita tahu visi dan sikap mereka ke depan. tentu saja, kita dapat memetakan aspek sustainability-nya. Jawaban spontan mereka saat itu adalah:

1. “Ya.. kalau ada bantuan yang lain, mohon kami diikutkan lagi”

2. “Kami akan fokus mencari siswa”

3. “Kami akan mengembangkan madrasah ini. Hanya media pembelajaran kami yang kurang, pak”

Menurut kawan-kawan, apa persepsi dan sikap mereka terhadap sebuah paket bantuan dan visi mereka dalam mengembangkan mutu madrasah?

Secara pribadi, jawaban pertama dapat dipandang bahwa madrasah hanya menunggu intervensi dari luar untuk memajukan madrasah mereka. Ini memprihatinkan bagi saya, mengingat mereka sudah diberi pelatihan Effective School Improvement dan Manajemen Berbasi Madrasah (MBM).

Semua jawaban itu, sekali lagi dalam tafsiran saya, madrasah kurang memahami aspak-aspak bagaimana menyinambungkan program Kemitraan ini di level lembaga mereka. Tampaknya mereka kurang memiliki keterkaitan yang langsung dan visi yang jelas terhadap EDM, RKM dan RKAM mereka.

Oleh karenanya, dalam kunjungan ini kami merekomendasikan ke madrasah hal-hal berikut ini:

1. Memperkuat peran dan fungsi Tim Pengembang Madrasah. Tim yang dijadikan output pelatihan ESI dan MBM ini harus bekerja bukan semata-mata untuk mengimplementasikan program Kemitraan. Namun lebih jauh, Tim ini yang harus bertanggung jawab pada peningkatan mutu madrasah dan media yang akan menerapkan Majemen Berbasis Sekolah/Madrasah dalam arti sesungguhnya, seperti diamanatkan oleh UU Sisdiknas. Tim inilah, yang salah satu fngsinya, akan menjadi struktur penjamin mutu internal madrasah. Tidak banyak lembaga pendidikan yang memiliki struktur canggih ini.

2. Tim pengembang dan semua stakeholder madrasah harus mereview EDM dan RKM mereka. Hal ini terkait dengan posisi kekuatan dan kelemahan madrasah telah berubah sejalan dengan keberhasilan mereka mengikuti program akreditasi ini. Oleh karenanya, madrasah didorong untuk maju lebih dari berdasarkan posisi terkini dalam EDM.

3. Madrasah sasaran didorong untuk membangun sebuah forum komunikasi. Forum ini akan memperkuat networking madrasah sasaran untuk diri mereka dan madrasah terdekatnya. Forum ini juga akan mampu memperkuat KKM/MGMP/KKG. Secara programatik, forum ini akan menyerupai konsorsium pengembangan madrasah, dimana madrasah menyusun program bersama dan didanai bersama. Misalnya, untuk pengembangan kompetensi guru, atau persiapan Kurikulum 2013, konsorsium ini dapat mengadakan kegiatan pelatihan dengan dana mandiri/iuran, demikian juga untuk kegiatan lainnya. Dengan demikian, madrasah akan merasa mudah dan kuat.

Dengan penguatan di tiga hal di atas, madrasah akan mampu berdikari dalam menjalan program-program penngkatan mutu pendidikan yang telah diinisiasi oleh Kemitraan Pendidikan. Dengan demikian, program yang dikembangkan oleh Kemitraan Pendidikan akan lestari.

Tiga rekomendasi di atas dapat dijadikan masukan dalam program penguatan sistem dan workshop sustainability dan exit strategi, di level madrasah. SNIP, khususnya Tahap 1, dapat memperkuat madrasah sasaran untuk terus meningkatkan mutu layanan pendidikannya. Saya mengharapkan, dalam program Sustainability dan Exit Strategy, aspek-aspek rekomendatif di atas perlu dipastikan terlaksana.

Demikian pula untuk SNIP dan madrasah sasaran Tahap 2. Pertanyaan-pertanyaan seperti yang sudah saya lontarkan di atas, perlu juuga ditanyakan ke madrasah. Sehingga, muncul kesadaran pada madrasah bahwa program Kemitraan Pendidikan hanyalah sementara, yang langgeng adalah mereka. Untuk siapa ini dilakukan? untuk semuanya, terutama anak-anak didik madrasah yang tidak berada dalam masa bantuan ini diberikan.

Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat.

 

Salam Teamwork (Reliability-Respect-Honesty-Empowering-Focus)

9 thoughts on “Merubah Mindset “BANTUAN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *