Refleksi 2.21

 

Salam, Tim.

Berikut catatan reflekstif saya minggu ini. Semoga bermanfaat. Salam.

—————-

Pada suatu kesempatan pada semester kedua kalender akademik, saya ditanya seseorang bagaimana caranya memilih sekolah yang baik untuk anaknya. Ya, memang sering kita mendapati kebingungan bagaimana kita akan memilihkan sekolah pada anak kita. Untuk kondisi orang yang bertanya itu, saya yakin aspek pembiayaan pendidikan bukanlah soal yang besar untuknya. Sehingga, kalaupun terpaksa menyebut nama lembaga, opsi yang bisa saya tawarkan tentu lebih banyak.

Saya tak menyebut nama, hanya tanda-tanda semata. Namun yang lebih penting, ujar saya, ada dua hal. Pertama adalah si anak mau apa dan ingin menjadi apa. Ini penting, karena dialah yang akan menjalani hidupnya dan dialah yang akan melaksanakan pendidikan itu. Jangan kita sebagai orangtua ngebet banget ingin memasukkan anak pada sekolah yang dianggap hebat atau favorit, tapi si anak sendiri tak tertarik memasukinya. Anak masuk sekolah, tapi ia tak belajar di sana. Kedua, kita perlu mengajarkan pada anak untuk memilih dan bertanggung jawab pada pilihannya. Yang kita lakukan adalah bagaimana caranya memperbanyak opsi untuk anak. Kita juga perlu menunjukkan apa konsekuensi dari setiap pilihan. Dalam konteks ini, keinginan dan pilihan anak tentu perlu kita dukung semampu kita untuk mewujudkannya. Tentu lah, saya berasumsi, si anak tidak punya hambatan untuk tahu apa yang dia mau dan apa yang dia pilih.

Sejujurnya, keinginan dan pilihan mereka sebenarnya tak lepas juga dari kondisi-kondisi yang kita ciptakan sendiri. Kenapa anak suka musik atau gadget, misalnya, karena kita sering memperkenalkan pada musik dan gadget. Atau, sejauh mana mereka terpapar pengaruh televisi yang ada di rumah kita. Demikian juga, tentang keinginan pada makanan, minuman, baju dan seterusnya. Kenapa anak memilih masuk sekolah umum dan bukan madrasah, maka kita perlu lihat, sejauh mana kita mengekspos sekolah atau madrasah pada anak, dan sejauh mana bacaan dan teman-teman dia memilih pendidikan lanjutannya. Inilah yang disebut mengorientasikan, sebuah rekayasa sosial, sebuah social engenering. Dari kacamata ini, sebenarnya konsep hidup “mengalir saja” adalah hal yang naif. Seseorang berkata, hanya ikan mati yang mengikuti arus air.

Lalu, apa tanda-tanda sekolah/madrasah hebat yang saya sampaikan. Saat itu, hanya dua yang saya utarakan. Untuk melihat sekolah atau madrasah itu hebat atau tidak, silakan cek toilet. Yang sebenarnya dilihat adalah rasio ketersediaan dengan jumlah pengguna, kebersihan dan fungsi toilet-toilet. Semua itu adalah sebuah tanda, bahkan dalam Instrumen Akreditasi BAN SM, toilet adalah bagian dari indikator mutu. Toliet berfungsi baik, airnya ada dan mengalir, kran berfungsi, dan kebersihan terjaga adalah bentuk kepemimpinan sekolan/madrasah yang bertanggung jawab dan detail dalam manajemennya. Toilet di sekolah/madrasah yang bersih, berfungsi dan berasio cukup menunjukkan sebuah kepempinan pendidikan yang bertanggung jawab pada kebutuhan biologis warga sekolah. Buang air kecil itu merupakan sebuah kebutuhan biologis manusia untuk hidup. Bila toilet dikelola dengan bersih, berfungsi dan cukup, maka sang kepala sekolah/madrasah adalah sosok bertanggung jawab ada kebutuhan dan kesehatan fisik warga sekolah/madrasahnya.

Coba bayangkan saja perbedaan toliet di pasar umum, di bandar udara, dan di hotel berbintang. Jelas perbedaan nyata sekali. Pucuk pimpinan di masing-masing tempat itulah yang menjadikan perbedaan itu terjadi. Tidak mungkin kita akan meminta pertanggungjawaban seorang satpam atas perbedaan itu. Pasti, ada harga ada rupa, berapa yang kita bayarkan, sebesar itulah nilai yang akan diterima.

Kedua, saya memintanya untuk melihat dan menikmati buku pinjam perpustakaan sekolah /madrasah. Apa yang kita lihat sebenarnya di daftar pinjam buku? Banyak sekali dan itu sangat signifikan. Di dalam tercermin sebuah budaya baca, semakin panjang daftarnya, semakin tinggi minat baca warga sekolah/madrasah. Kok bisa? ya, itu artinya sekolah/madrasah sudah mengintegrasikan dengan pembelajaran di kelas dengan perpustakaan. Integrasi itu menunjukkan betapa tenaga pendidik dan non pendidik di sana adalah orang-orang yang “resourceful”, orang-orang yang tahu harus kemana dan kepada siapa bertanya untuk mencari informasi yang diperlukan. Mereka adalah orang-orang yang menyadari bahwa perpustakaan adalah jantung informasi sekolah dan madrasah. Perpustakaan adalah jantung yang memompa informasi, ilmu dan kearifan ke ruang-ruang kelas, ke area bermain, arena olahraga, tempat ibadah dan seluruh ruang-ruang di sekolah/madrasah.

Pembelajaran di kelas hanyalah semacam jendela menuju dunia yang lebih luas: dunia ilmu pengetahuan, dunia kreasi pemikiran, dunia cipta rasa, karsa dan karya, dunia olah raga dan olah jiwa, dan dunia misteri. Semua dunia ini bersemayam dalam buku-buku di perpustakaan sekolah/madrasah yang hebat, dikelola oleh pustakan yang handal, disediakan oleh pemimpin sekolah/madrasah yang visioner. Banyaknya daftar buku yang dipinjam adalah sebuah lukisan yang menunjukkan betapa gemerlapnya dunia belajar anak-anak sekolah/madrasah itu.

Sejalan dengan waktu, saya merasa dua tanda sekolah/madrasah itu tidaklah cukup untuk melihat kehebatan sebuah lembaga pendidikan. Ada dua aspek pada kriteria itu: fisik dan intelektual. Masih harus melewati jalan berliku, atau bahkan hilang dan harus dicari, untuk melihat aspek sosial dan spiritualitas dalam kedua kriteria itu. Apa tandanya dan bagiamana caranya untuk melihat nilai sosial dan spiritual digali, dipahami, dimaknai dan diterapkan dalam perilaku harian di sekolah/madrasah? Menyebut sebuah musholla di sekolah atau madrasah, kita masih harus membuktikan bahwa aspek spiritual tercermin dalam keseharisan sekolah dan madrasah. Terlebih pada kenyataan, koruptor juga beribadah di rumah Tuhan, bahkan dana kitab suci juga diembatnya. Betul, tempat ibadah itu sebuah tanda, tapi ia sering kali tak relevan pada kenyataan bullying marak di sekolah, atau langkanya sebuah kejujuran di dunia pendidikan. Negeri yang parah betul untuk diperbaiki, tapi kita tak boleh berhenti berbuat perubahan yang baik.

Pada akhirnya, berkiprah di Kemitraan Pendidikan Australia Indonesia, saya menemukan jawabannya. Walau bukan hal baru dalam dunia pendidikan, tapi ia dapat memberikan banyak sketsa nilai-nilai sosial dan spiritual yang diterapkan. Dan, ia adalah Madrasah Inklusif.

Bagaimana lagi harus menjelaskan betapa pentingnya sebuah pemahaman, sikap dan tindakan saling menghormati manusia bila kita melihat kenyataan anak-anak bergaul dan berinteraksi dengan saling menghargai dan saling mendukung, tidak peduli kondisi fisiknya ‘normal’ atau anak berkebutuhan khusus (ABK); Regulasi anti-bullying apalagi yang akan disodorkan bila ada faktanya anak-anak dalam segala kondisi sudah saling berbagi; Dalil manalagi yang harus diucapkan melihat kondisi madrasah bertekad memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakatnya, tanpa melihat perbedaan strata sosial dan ekonomi; Keharuan jenis apalagi harus ditumpahkan saat kita melihat satu madrasah di pelosok propinsi Lampung memberikan layanan pendidikan layanan yang sama dan setara pada anak-anak berbeda agama; Madrasah Inklusi menjawab retorika-retorika itu.

Secara pribadi, saya sangat menaruh hormat kepada kepala dan warga madrasah, yang dalam keterbatasannya, mereka mendeklrasikan diri sebagai madrasah inklusif. Sebuah pengabdian tak berbatas, sebuah kerja kemanusiaan yang memerlukan laku istiqomah tinggi. Ini sebuah kerja yang tidak ternilai.

Semoga kita tetap menyebarkan manfaat untuk sesama, dan beristiqomah tentangnya. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *