Madrasah : Kaulah Pelaku Perubahan Sebenarnya !

Sebenarnya, saya dalam posisi off duty (cuti) saat menghadiri acara penutupan Tahap 1 di Jawa Timur. Salah satu alasan kenapa saya menghadirinya adalah saya ingin tahu bagaimana suasana, cita rasa acara penutupan sebuah tahap dalam program Kemitraan Pendidikan ini. Beberapa SNIP telah melakukan kegiatan ini sebelumnya. Karena padatnya kegiatan, terpaksa saya tak bisa menghadirinya, dan untuk SNIP Jatim yang hadir Pak Robert dan Pak Liku. Ternyata, kesempatan untuk hadir di penutupan itu berada di pekan yang jauh-jauh hari saya rencanakan untuk urusan pribadi saya, jadi begitulah akhirnya. Insyaallah, setiap closing oleh SNIP ada tim C3 yang hadir.

Kembali keurusan Closing ini. Sepertinya, dan perasaan saya, baru semester kemarin program peningkatan mutu madrasah ini diimplementasikan di madrasah Tahap 1. Saya ingat, kontak langsung Tim C3 dengan madrasah Tahap 1 adalah sosialisasi block grant dan penandatanganan kontrak kerja sama. Sebagai ‘mahar’ ikatan kontrak itu, transfer 1 bagi mereka dikeluarkan sekitar lima hari setelahnya.

Ada cerita menarik di periode ini, yang mungkin beberapa kawan telah mengetahuinya. Semula, kami sangat ingin bahwa hibah ini diatur dalam regulasi yang ketat. Alasannya, saat itu sebagian besar anggota tim C3 merujuk pada pengalaman distribusi hibah dari berbagai progam dan donor, serta hibah dari pemerintah. Mulai dari ‘penyutanan’ penyelewengan hingga kasus yang berujung sampai di ranah hukum. Kami ingin hibah ini efekif dan hal-hal yang tidak kita inginkan itu tidak terjadi. Tentu saja caranya adalah pengetatan aturan dan pengawasan yang melekat.

Draft desain awal pengelolaan disampaikan oleh tim C3 ke manajer, saat itu Pak Russell. kami presentasikan. Dia merenung untuk memahaminya. Namun responnya sungguh di luar yang kami bayangkan, setidaknya, yang saya bayangkan. Pada garis besarnya seperti ini, “Jadi, ini responmu. Jadi, sudah dari awal bahwa kalian yakin bahwa madrasah tidak bisa berbuat jujur. Sudah dari sejak perencanaan, kalian berkeyakinan bahwa semua madrasah akan berbuat curang. Sudahilah prasangka seperti itu. Yakinilah bahwa setiap orang itu adalah orang baik, dan mampu berbuat baik. Madrasah pun mampu berbuat amanah dalam mengelola dana hibah ini”.

Saya pun lalu terdiam, bengong. Mungkin ada beberapa tim C3 lainnya yang merasa demikian. Kenapa saya bengong adalah ada perbedaan paradigma antara kami dengan Pak Russell, saya mencium sebuah perubahan cara pikir harus segera dilakukan. Dan betul, kami menyesuaikan dengan paradigma Pak Russell itu. Semua kerja dan dokumen dipersiapkan dalam kerangka pikir yang sangat husnudzon kepada madrasah. Kami percaya madrasah dapat menjalankan amanah dari pajak rakyat Australia ini. Transfer pertama dilakukan.

Dan yang terjadi: Banyak madrasah yang menarik dana hibah ini, seutuhnya, tanpa konsultasi, tanpa persetujuan, dan tragisnya, tanpa tujuan yang jelas untuk apa dana ditarik dalam konteks dan kerja peningkatan mutu madrasah. Kalau kawan-kawan SNIP masih ingat, tak lama setelahhnya Pak Russell mengeluarkan edaran bahwa dana harus dikembalikan lagi ke rekening madrasah.

Dari kejadian ini, apakah paradigma itu harus diubah? Sejauh ini, paradigma itu masih melekat dan masih diterapkan. Ada pembelajaran untuk memperbaiki sistem yang ada. Pertama, tidak semua madrasah mencairkan, artinya, kalau penarikan itu sebuah indikasi amanah atau tidak amanah para pengurus madrasah, masih ada dan banyak pengurusan madrasah yang bisa berbuat amanah. Demikian juga sebaliknya, ada dan banyak, madrasah yang berada dalam ambang bawah amanah, atau bahkan berada di bawah garis amanah.

Dari kejadian ini, kita perlu mempelajari kenapa ada madrasah yang langsung berbuat amanah, dan ada madrasah yang berbuat tidak amanah. Seingat saya, dalam diskusi tim C3 terkait masalah ini, tidak membahas soal moralitas para pegiat madrasah. Kenapa, karena kami menyadari bahwa itu bukan domain kerja kami. Yang kami lakukan adalah memperbaiki cara kerja, sistem kerja, nilai kerja serta penggalangan pemahaman yang utuh tentang apa program Kemitraan ini, apa maksud dan tujuan hibah, bagaimana mengelola dana hibah, dan bagaimana meningkatan mutu madrasah melalui hibah ini. Itulah kenapa kemudian, tim C3 me-launching workshop tentang manual block grant untuk madrasah, memperkuat SNIP dalam pengawasan, meningkatkan kapasitas dan peran mentor, dan seterusnya.

Sejalan dengan waktu, sistem dan kerja peningkatan mutu madrasah di level madrasah berjalan ke rel yang kita inginkan. Alhamdulillah. Hasilnya dapat kita lihat bersama. Tentu tidak semuanya indah dan mengasyikkan. Ada rel madrasah yang berkelok-kelok sehingga membuah tim SNIP dan C3 puyeng dan linglung. Ada Lokomotif yang rusak dan harus turun mesin. Ada penumpang yang telat datang dan tertinggal, bahkan ada gerbong yang tertinggal, dan seterusnya.

Baru saja kita kembali ke rel yang seharusnya, menemukan tujuan destinasi yang jelas, rupanya, stasiun pertama Tahap 1 telah sampai pada kita. Di sini, tim C3 harus turun. Tiket kami hanya sampai di sini, dan kami tidak mau menjadi penumpang gelap, atau membeli tiket dari dana yang bukan peruntukannya.

Rupanya, di stasiun ini, kami melihat begitu banyak pengakuan bahwa madrasah sudah bergerak maju, bahwa sistem mulai bekerja, bahwa kerja peningkatan mutu madrasah adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari kementerian, pemda, LSM, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri, dan seterusnya. Di stasiun ini pula kami melihat wajah cerah para pengurus madrasah, semangat dan optimisme para guru, antusiasme wali murid dan warga madrasah, serta keceriaan murid-murid. Hasilnya apa? Mutu madrasah Tahap 1 kita lebih dari 90% berada di level A dan B oleh BAN SM, jauh di atas target Renstra Kementerian.

Lalu, apalagi yang dibutuhkan dari tim C3? Tak ada. Inilah destinasi yang harus dicapai oleh semua pemangku kepentiingan peningkatan mutu madrasah. Dan di sinilah, di stasiun ini kami harus turun. Saya hampir meneteskan air mata, ketika seorang siswi memberikan testimoni keberhasilan madrasah mereka dalam menjalakan program ini, dalam meningkatan mutu pendidikan mereka di madrasah. Alhamdulillah..

Apa yang diperlukan oleh madrasah serta semua pemangku kepentingan peningkatan mutu madrasah, bukan berasal dari tim C3. Yang mereka butuhkan ada di dalam mereka sendiri. Yang dibutuhkan adalah konfidensi, rasa percaya diri bahwa mereka bisa maju. Yang mereka butuhkan adalah istiqomah, konsistensi bahwa apa yang berjalan baik harus ditingkatkan, dan ditingkatan terus.

Selamat Jalan Madrasah Tahap 1. Semoga sukses. Semoga kita bertemu kembali.

——–

Demikian, semoga bermanfaat.

 

Salam Teamwork (Reliability-Respect-Honesty-Empowering-Focus)

19 thoughts on “Madrasah : Kaulah Pelaku Perubahan Sebenarnya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *