Beberapa waktu lalu di pekan seusai ujian semester akhir sekolah, saya menerima surat pemberitahuan kalau anak saya terpilih untuk seleksi tahap awal (persiapan) peserta olimpiade Matematika. Saya mendampingi anak saya, yang masih kelas 3 sekolah dasar untuk belajar mandiri. Duduk berdua di lantai ruang, tepat di bawah lampu. Ada tiga buku paket Matematika yang harus diselesaikan malam itu.
Saat itu, anak saya sudah menyelesaikan satu buku. Lalu saya keluarkan dua buku yang lain. Anak saya tertegun, dalam wajah yang terlihat memerah. Matanya berkaca-kaca, saya lihat sebentar lagi air matanya akan tumpah. Lalu saya bertanya, “What’s up, boy?”
“It’s just too much, dad,” jawabnya lirih dengan tertunduk. Jawaban itu membuat saya terenyuh dan haru. Saya memahami bahwa dia sudah belajar cukup keras untuk mengikuti ujian semester yang baru saja kelar. Dan, dia harus belajar lebih keras lagi karena ada matapelajaran yang harus remidi. Belum tuntas sepenuhnya, esok pagi hari ada seleksi awal (persiapan) olimpiade itu, dengan tiga buku yang harus dituntaskan. “Come, boy” pinta saya, lalu saya peluk dia. Betul, tumpahlah air mata di sana, tapi tak meraung dalam tangis.
“Ini waktunya makan malam. Kamu lapar?” tanya saya, dia mengagguk di dekapan saya. “Yuk, kita semua makan di luar.” Lalu bergegaslah kami sekeluarga mencari tempat yang nyaman. Mungkin satu jam kami habiskan waktu di rumah makan itu. Setelah semua muatan emosi dalam terkendali, dengan bahasa yang saya coba bisa dipahami anak seumuran dia, saya ungkapkan bahwa kalau kita gagal atau salah dalam menetapkan dan menjalankan satu keputusan, hal itu setidaknya telah membuat kita belajar lebih baik terhadap apa yang kita lakukan dan apa hikmahnya untuk masa yang akan datang, dan yang utama kita telah mendapatkan satu dari dua nilai plus (pahala yang dijanjikan) atas ijtihad kita. Namun, hal yang paling disesali banyak pemimpin dan manajer dunia itu adalah ketertinggalan diri dan kehancuran organisasi karena satu keputusan yang tidak diambil.
Saya teringat satu peristiwa, di awal tahun 1990 perusahaan kamera KODAK dengan tegas tidak akan mengambil keputusan untuk ikut bermain di teknologi kamera digital. Menurut mereka, kamera analog yang menggunakan film memiliki keunggulan yang tak bisa dilawan oleh teknologi kamera digital.
Sementara kompetitor mereka seperti Canon, Nikon, Sony, Olympus waashhaabihim terus mengembangkan teknologi fotografi digital. KODAK mungkin lupa bahwa teknologi akan terus berkembang dan menyempurnakan dirinya, dan mengalahkan teknologi kamera analog. Walhasil, awal 2013 lalu KODAK secara resmi menyatakan bangkrut dan perusahaan itu tutup. Mati. Guna menutup semua operasional, KODAK menjual hampir semua hak paten dalam teknologi kamera kepada para pesaingnya.
Nah, belajar dari kasus itu, saya tidak ingin anak saya kemudian hari menyesali diri sendiri, karena dia tidak mengambil keputusan untuk bersaing, dan menyiakan kesempatan berpartisipasi dalam seleksi ini. Bisa jadi anak saya tertekan dan merasa bebannya terlalu besar. Saya harus memahami kondisi dia, dan meringankan beban yang ada padanya. Pada saat yang sama, saya juga harus memulai sebuah kesadaran bahwa dia juga harus bertanggung jawab pada keputusan yang dia buat dan keputusan yang tidak dia buat, apa pun alasannya.
Bagaimana caranya? Saya memulai dengan motivasi. Ada ulasan menarik tentang ilmu motivasi dan bagaimana motivasi itu sebenarnya bekerja dalam diri manusia, dalam diri kita. Yang mengulas adalah E. Tory Higgins dalam bukunya “Beyond Pleasure and Pain: How Motivation Works” (2012). Menurut Higgins, selama ini motivasi diri atau memotivasi orang lain sering terkait erat dengan penghargaan dan sanksi, reward and punishment, antara madu dan cambuk. Bila kita beraktifitas dengan baik, terencana, fokus dan terkontrol, maka kita akan mendapatkan hasil yang kita harapkan. Kita sangat bersemangat untuk belajar dengan harapan akan ada penghargaan, pengakuan, imbalan yang akan kita peroleh. Kata ‘hasil’ ini merupakan bentuk penghargaan minimal atas kerja kita. Penghargaan lanjutan bisa berupa pengakuan dari orang/pihak lain bahwa kita memang bekerja dengan baik dan hebat. Pengakuan itu beraneka ragam, entah itu berupa sekedar pujian “Anda Hebat dan Mengagumkan!!” atau bahkan sebuah tropi, piagam dan lainnya.
Demikian juga sebaliknya, kita termotivasi untuk menyelesaikan semua tugas dan target kita, atau datang ke arena pelatihan tepat waktu, atau menepati janji karena ada sanksi, ada punishment, ada cambuk, yang memaksa dan mengancam kita untuk berprestasi, agar memenuhi semua target atau hadir tepat sebelum sesi pelatihan dimulai. Kita kuatir bila tidak memenuhi target, bisa jadi gaji dan bonus kita dipotong juragan, atau kita takut bila datang terlambat ke pelatihan, fasilitator akan menghukum kita.
Keduanya (reward and punishment) adalah penggerak kita untuk bekerja atau melakukan hal yang jauh lebih baik dari biasanya. Menurut Higgins, ada faktor lain di luar kesenangan dan kepedihan itu. Menurutnya, dengan menafsir peristiwa Adam dan Hawa versi Kitab Injil, adalah fitrah manusia sejak diciptakan memiliki keinginan untuk tahu. Ketika mereka diciptakan dan ditempatkan di surga, ada satu larangan untuk menjauh dari satu jenis pohon. Tentu, ada kontribusi godaan setan dalam peristiwa terusirnya Adan dan Hawa dari surga.
Namun, ada factor lain secara internal dalam diri Adam dan Hawa. Faktor itu adalah rasa ingin tahu, apa jadinya bila mereka mendekati pohon terlarang itu dan apa yang akan terjadi bila mereka memakan buah terlarang itu. Lalu mereka memakan buah terlarang itu, padahal mereka tahu konsekuensi reward and punishment atas aturan buah terlarang tersebut. Dan.. Bingo!! Tuhan menepati janji-Nya untuk menghukum mereka dengan menjungkalkannya dalam dunia fana (punishment) dan mengusir mereka dari keabadian dan kedamaian (rewards). Oleh karenya, Higgins menilai, motivasi lain di luar madu dan cambuk itu adalah factor manusia yang punya rasa ingin tahu dan kuasa ingin mengontrol apa yang akan terjadi bila satu hal/peristiwa/rencana/aturan dan sebagainya dijalankan dan dilaksanakan melampaui kewajarannya, baik secara positif maupun negatif.
Itulah factor yang coba saya terapkan untuk memotivasi anak saya, tidakkah kamu ingin tahu bagaimana rasanya menjuarai sebuah event yang prestisius? Ini juga sebenarnya berlaku bagi kita semua dalam program EP C3 ini. Tidakkah kita ingin tahu apa yang terjadi dengan madrasah sasaran (apalagi dalam kondisi yang sangat parah) saat mereka benar-benar menjadi madrasah efektif atas dukungan kita, atas kerja kita? Tidakkah kita juga ingin tahu, bila madrasah yang parah saja bisa berhasil maju, apa yang terjadi dengan madrasah yang kondisinya lebih bagus? Tidakkah kita ingin tahu, bila mereka berhasil, akan seperti apa kita (SNIP dan C3) nantinya?
——————————-
Setelah acara makan di malam itu, kami kembali ke ruangan semula, dimana buku-buku anak saya berserakan. Anak saya menuntaskan semua buku yang harus dikerjakannya malam itu. Setelah itu, dia menatanya ke dalam tas. Lalu, dia bersiap tidur. Tak keluh, tak ada air mata terurai. Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat.
Salam Teamwork (Reliability-Respect-Honesty-Empowering-Focus)

I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article. https://accounts.binance.com/ph/register-person?ref=B4EPR6J0
The Tamoxifen Exemestane Adjuvant Multinational TEAM phase 3 trial was conducted in hospitals in nine countries priligy ebay
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.
Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.
Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me? https://www.binance.com/ar/register?ref=FIHEGIZ8
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article. https://accounts.binance.com/register/person?ref=JW3W4Y3A