Di bulan Ramadhan lalu, saya harus berkunjung ke salah satu madrasah sasaran kita. Saya selalu girang bila ada kesempatan ketemu madrasah. Selalu ada cerita unik. Selalu ada gairah untuk maju. Selalu ada mimpi indah yang pelan-pelan mulai mewujud dalam implementasi. Namun kali ini berbeda. Sebuah tugas khusus harus dilaksanakan di madrasah ini: menyelesaikan konflik internal yang telah mendera madrasah.
Konflik ini telah memecah belah komponen madrasah, yang ditandai kepala madrasah dan staf bermusuhan dengan pengurus yayasan, guru terpecah dalam dua kubu, komite madrasah tak tahu harus bagaimana bertindak, murid-murid mulai gelisah. Di satu sisi, implementasi program yang semula bagus di awal period, kini mulai terbengkalai. Tentu saja, SNIP dan C3 harus bertindak untuk menyelamatkan keberlanjutan program, dan lebih dari itu SNIP dan C3 turut menyelesaikan masalah agar madrasah ini bisa melaju lebih kencang.
Tentu saya tidak akan menuliskan detail identitas dan siapa yang telibat dan apa-apa yang terjadi di madrasah ini. Selain masalah kepatutan dan kewenangan, apa relevansinya? Oleh karenanya, tulisan ini hanya refleksinya saja, apa hikmah yang bisa kita pelajari untuk bekal kegiatan selanjutnya. Saat mau nulis tentang madrasah ini, saya secara pribadi sempat berpikir, kalau membedah konflik tanpa solusinya, maka akhir tulisan akan berakhir dengan kebuntuan dan tak ada pencerahan reflektif yang bisa kita ambil hikmahnya. Bila fokus di solusinya, bisa jadi menghambat partisipasi kawan-kawan untuk juga mencarikan solusiya. Kalau memasukkan keduanya, tulisan ini bisa panjang dan membosankan. Saya coba pilih keduanya, semoga singkat dan tidak membosan.
Konflik itu lumrah dalam sebuah proses perubahan, yang kawan-kawan bisa merujuk dalam teori pembentukan tim kerja dalam Modul ESI itu: Forming-Storming-Norming-Performing-Adjourning. Nah konflik itu artinya kita berada dalam proses storming, proses badai. Dus, dalam teori manajemen perubahan (change management) ada satu istilah yang berkaitan erat dalam konflik ini. Istilah itu adalah resistance to change, penolakan terhadap perubahan, penolakan inilah yang menuntun pada konflik internal dalam sebuah organisasi yang memutuskan untuk menjalani perubahan.
Menolak untuk berubah adalah awal konflik terjadi. Dalam bahasa yang lain, seorang penulis Manajemen Perubahan Jeanie Daniel Duck (1998) berargumen di Harvard Business Review bahwa, “the biggest challenge for managers in planning and implementing change is the dynamic of the process and not the pieces of change”. Tantangan terbesar para manager dalam merencanakan dan melaksanakan perubahan adalah dinamika prosesnya, bukan pada perubahan itu sendiri. Penanganan resistensi atau penolakan untuk berubah, dinamika dalam perubahan, konflik dalam proses perubahan adalah pokok dan inti dari sebuah proses perubahan itu sendiri. Singkatnya, manajemen perubahan adalah manajemen konflik.
Alasannya? Sederhana saja. Semua orang ingin perubahan yang lebih baik di semua level kehidupan. Di level personal, semua orang ini berubah untuk menjadi lebik baik, lebih nyaman dan lebih mudah dalam segala hal. Itu tidak bisa di bantah. Di level organisasi, semua staf ingin organisasinya berkembang labih maju. Organisasi yang maju akan memberikan banyak manfaat bagi anggotanya, di samping ada kebanggaan menjadi anggota/stafnya. Di level sosial kemasyarakatan, semua orang ingin pendidikan lebih baik, ada rasa aman saat berjalan di taman kota atau saat rumah ditinggal pergi, ada kemudahan untuk mengakses pada fasilitas kesehatan atau fasilitas publik lainnya, ada kenyamanan dan ketentraman saat menikmati hidup saat ini dan saat masa pensiun nanti. Dalam semua hal, setiap kita ingin kondisi yang lebih baik, kita ingin perubahan yang lebih baik.
Nah, kalau semua orang ingin berubah ke kondisi yang lebih baik, lalu kenapa ada orang atau kelompok orang yang menolak untuk berubah, dan pada ujungnya kenapa kita masuk dalam sebuah atau berbagai berkonflik, bukankah kita akan berubah menuju ke kondisi kehidupan yang lebih baik? Kalau semua orang ingin kehidupan kita menjadi lebih baik, lalu kenapa perubahan itu tidak bisa dikelola secara biasa-biasa saja, business as usual, sebagaimana madrasah/SNIP/C3 telah berjalan selama ini?
Kembali ke madrasah yang saya kunjungi di atas. Permasalahan di madrasah itu sudah berada dalam kondisi yang kronis. Bukan hanya dalam arti bahwa konflik itu sudah menghambat peluang untuk maju cepat, lebih dari itu, konflik berkepanjangan itu menggerogoti dan menghancurkan prestasi yang sudah diraih. Saya tidak dalam berpikir secara eksageratif, atau bahasa gaulnya secara lebay, namun secara faktual, proses hitung kehancuran madrasah sudah berdetak aktif. Bila tidak ada upaya-upaya resolusinya, kok saya perkirakan umur madrasah itu tidak akan panjang. Wallohu a’lam.
Lalu bagaimana untuk membantu madrasah kita ini entas dari masalahnya? Problem solving itu banyak varian teorinya, tergantung berbagai komponennya, misalnya komponen apakah masalah itu “sudah” terjadi atau masalah itu pasti “akan” terjadi karena hukum sebab akibat. Nah, masalah di madarasah ini berstatus “sudah terjadi”. Sebelum kita turut rembug untuk mencari solusinya, hal pertama dan utama yang perlu kita lakukan adalah mencermati statemen dari Eldridge Cleaver (1969), “you’re either part of the solution or you’re part of the problem”, bila kita bukan bagian dari solusi, maka bisa dipastikan kita bagian dari masalah yang ada.
Ini penting bagi kita untuk menentukan dan memastikan posisi kita dalam sebuah penyelesaian masalah/konflik: kita akan menjadi solusi atau terjebak menjadi bagian dari masalah/konflik. Sering kita hendak membantu sebuah proses konflik, namun sering kita terjebak untuk masuk untuk mendukung salah satu kelompok yang berkonflik. Akhirnya, lambat laun dan kadang tanpa disadari, kita berada dalam posisi bukan bagian dari solusi, tapi justru bagian dari konflik. Dalam posisi seperti itu, sering kali kita justru mempertajam konflik. Bila ini terjadi, dapat dipastikan misi untuk menyelesaikan masalah sudah gagal. Ini juga yang disadari oleh tim SNIP dan C3 saat hadir di madrasah itu.
Sama seperti kita hendak bepergian, kita harus tahu kita berada di mana saat ini. Ilustrasinya, Saya tinggal di Malang, bila kita diundang ke Jakarta, saya tidak akan langsung membeli tiket kereta Malang-Jakarta. Saya harus mendapatkan informasi dimana saya berada pada hari kegiatan di undangan itu berlangsung. Kalau saya berada di Bandung, kan tentunya saya tidak akan tetap membeli tiket Malang-Jakarta. Setelah itu, baru kita putuskan kemana kita akan pergi dan seperti apa medannya, syukurlah bila kita punya peta, plus tiketnya. Oleh karenanya, tim C3 meminta SNIP untuk memberikan semua informasi yang berkaitan dengan madrasah ini. Masih kurang cukup, C3 mengirimkan utusan untuk menggali informasi lebih jauh, dari siapa pun yang dipandang perlu.
Setelah informasi lengkap, saya dan tim SNIP hadir ke madrasah. Tak tanggung, Kasi Penmad dan Pokjawas juga mau hadir untuk di madrasah kita ini. Pertemuan melibatkan semua stakeholder madrasah, kepala madrasah dan staf, yayasan, guru, komite, beberapa tokoh masyarakat hadir. Suasana rapat panas dan tegang. Alhamdulillah. Pertemuan selama dua setengah jam dalam suasana Ramadhan yang barokah, peta jalan solusi disepakati. Pertemuan ditutup dengan doa bersama.
(Bersambung).
Semoga bermanfaat.
Salam Teamwork (Reliability-Respect-Honesty-Empowering-Focus)

In certain embodiments, the vertebrate is a human reddit where buy priligy 2 It is also important to acknowledge that cardiac risks beyond QTc prolongation pervade multiple classes of antineoplastic agents and should be taken into consideration when part of an oncology regimen
2004 Sep; 31 9 1693 7 can you get generic cytotec price
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you. https://accounts.binance.com/kz/register-person?ref=RQUR4BEO
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good. https://www.binance.bh/register?ref=IHJUI7TF