Kunci Perubahan : Komitmen Maju

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, tulisan kali ini tentang mengembangkan mutu madrasah secara mandiri. Dalam tulisan ini, menurut saya akan lebih efektif dan lebih tepat bila dimulai dari praktek yang berhasil, lupakan dulu kerangka teorinya.

yaa.. semacam tulisan emperikal, lah. Dengan begitu, sebisa mungkin saya bisa menepis statemen apologis seperti “ah, itu kan teori” atau “itu teorinya, prakteknya bisa berbeda” dan sebagainya. Dan untuk bahan bedah praktek yang cukup sebagai contoh ini, saya ambil kasus peristiwa yang saya tulis dalam refleksi sebelumnya, yakni MTs dan MA yang baru saja berdiri itu. Namun harus diakui, praktek di pesantren itu hanya duplikasi oleh keberhasilan cerita sejenis, di beberapa tempat lain. Begini cerita detailnya.

Setelah saya bisa meyakinkan sang kyai itu, beliau bertanya apa langkah yang perlu dilakukan. Perlu diketahui juga, saat itu sang kyai menjabat kepala MA selama periode pendirian. Nach, posisi beliau ini (Pengasuh pesantren merangkap kepala MA) akan menguntungkan tindakan intervensi peningkatan mutu madrasah.

Pemimpin yang terbuka pada perubahan akan memudahkan terjadi perubahan itu sendiri di level prakteknya. Dimana pun, kepemimpinan adalah faktor primer dalam sebuah kerja perubahan, baik yang bersifat reformatif, transformatif atau bahkan revolusioner. Kepemimpinan di MTs ini dipegang orang yang masih muda, sama seperti madrasah yang saya kunjungi dan Pak Syihab kunjungi itu. Nilai plusnya di madrasah yang saya ceritakan ini adalah sang Kyai tergolong kyai muda, dan sedang mengambil S2 juga. Jadi, kunci pertama untuk membangun madrasah bermutu secara mandiri adalah kepemimpinan yang bergairah dan memiliki komitmen pada pengembangan mutu dan mau berubah.

Setelah urusan membangun komitmen itu, saya minta sang kyai untuk melakukan kerja pertamanya dalam peningkatan mutu madrasah. Kerja itu adalah madrasah miliki tim yang bisa dihandalkan. Tim handal itu berarti tim ini beranggotakan orang-orang yang memiliki komitmen yang sama, mereka memahami dan memiliki tujuan yang sama, memiliki program kerja yang terarah dan terencana, memiliki beban kerja yang sama dan mau bekerja sama.

Bagaimana caranya? “Sederhana, mari kita mengadakan rapat baik dari tim MA maupun tim MTs. Dan Rapat ini harus diikuti oleh kamad, guru, tenaga non guru, siswa, dan komite/wakil wali murid. Nanti saya akan membantu memfasilitasinya,” ujar saya.

Kemudian, ditentukan hari rapat itu. Sebuah rapat bersama dua madrasah yang bisa dikatakan baru pertama kali terjadi: sebuah rapat yang melibatkan kyai-santri-kamad-guru-komite, mulai pagi sampai sore hari. Rapat mirip seperti rapat C3-SNIP, banyak guyon tapi fokus pada hasil dalam slot waktu yang tersedia. Agenda rapat saat itu adalah membangun komitmen, analisa masalah-masalah peningkatan mutu madrasah, mengidentifikasi opsi solusi dan memilih solusi terbaik. Opsi-opsi terbaik itu kemudian disusun dalam rencana kerja. Hanya saja, rencana kerja ini belum begitu detail. Maksud saya detail itu adalah tidak sama seperti saat kawan-kawan membantu madrasah sasaran menyusun dan melengkapi EDM, lalu prioritas di dalamnya dibuat menjadi RKM hingga pada level penganggaran.

Salah satu yang dibahas saat rapat perencanaan itu adalah menganalisa lingkaran setan masalah peningkatan mutu madrasah. Mari kita lihat lingkaran itu: Kenapa Madrasah ditinggal murid/masyarakat? karena tidak ada prestasi. kenapa tak berprestasi? karena tak bermutu. Kenapa tidak bermutu? karena kualitas guru rendah, karena fasilitas minim, karena manajemen serabutan, karena alat peraga belajar dan buku tidak ada, karena tak ada tempat berkrasi dan olahraga. kenapa semuanya itu tidak ada di madrasah? karena tidak ada dana. Kenapa dana kosong? karena pemasukan dana minim. Kenapa dana minim? madrasah ditinggal masyarakat dan bantuan minim. Bila dilihat, masalah itu melingkar dan beranak pinak. Lalu, bila madrasah dapat dana sekitar lima (5) juta rupiah, apakah madrasah segera bisa bermutu? belum tentu.

Itulah yang saya sebut lingkaran setan berbagai masalah yang ada di madrasah. Nach, lingakaran setan inilah yang harus dipotong, dicacah-cacah, dipilah dan dipilih sesuai dengan prioritas. Dan, tentu saja, semuanya diselesaikan sesuai dengan level prioritas, efektifitas dan kemampuan. Kalau kawan-kawan melihat semua masalah di atas itu, dan memiliki tim kerja yang solid dan bisa dihandalkan, kira-kira masalah mana yang harus diselesaikanterlebih dahulu, mendesak, berdampak luas, mudah dilaksanakan dalam waktu sesegera mungkin dan terjangkau alias murah? Apakah membangun fasilitas atau kelas baru? Apakah belanja buku teks? Membeli alat olah raga? membangun pagar? atau memiliki KTSP yang otentik? Ingat, tujuan kegiatannya adalah meningkatakan mutu madrasah, dengan modal kerja lima juta! Coba renungkan sebentar saja, dan berhenti membaca sejenak. Lalu, buat tiga kegiatan saja dengan modal lima juta rupiah. Apakah tiga kegiatan itu?
==========================================================SILAKAN========================================================

=======================================================DIRENUNGKAN======================================================

=========================================================TERLEBIH========================================================

==========================================================DAHULU=========================================================

Saya yakin kawan-kawan sudah punya daftarnya. Saya percaya itu. Yaa… setidaknya daftar itu ada dalam pikirkan. Syukur-syukur bisa tertulis. Lalu, kegiatan apa yang saya rekomendasikan kepada dua madrasah baru itu untuk segera dilaksanakan, agar lingkaran setan itu bisa terputus, terpilah dan terselesaikan dengan modal kerja lima juta rupiah?

Pertama,
saya membentuk tim kerja di dua madrasah itu. Ketika tim sudah terbentuk, maka dibuatlah program kerja berdasarkan analisa masalah dan prioritasnya. Meeting ini menghabiskan dana sekitar 500 ribu rupiah. Kedua, dua madrasah itu kemudian melaksanakan pelatihan pembelajaran efektif dan menyenangkan untuk guru dan kepala madrasah. Peran guru itu sangat penting untuk meningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas dan di luar kelas. Guru pulalah yang akan meningkatkan efektifitas belajar siswa selama dan seletah mereka di madrasah. Guru pula yang akan mempersiapkan siswa mendapatkan nilai ujian nasional yang berada di atas sekolah dan madrasah lain. Guru lah yang menjadi agen proses tranfer pengetahuan, nilai, dan semangat untuk hidup lebih baik.

Oleh karenanya, kompetensi guru harus diutamakan dan dipersiapkan dengan segera. Ini program mendesak. Pelatihan ini dilaksanakan selama satu hari penuh dan menghabiskan sekitar satu juta rupiah. Pelatihan ini sangat direspon positif oleh semua guru. Lalu, madrasah berbelanja beberapa buku yang diperlukan untuk guru. Saya tidak tahu habis berapa madrasah ini membeli buku-buku tentang petunjuk teknis dan tips-tips pembelajaran aktif.

Kegiatan ketiga adalah peningkatan minat baca dan minat belajar siswa. Madrasah itu dilatih dengan modul Manajemen Perpustakaan milik LAPIS saat itu. Modul yang sama untuk madrasah sasaran C3 saat ini. Modul tersebut memang tentang tata kelola perpustakaan, namun ada banyak fitur kegaitan yang bisa meningkatkan minat siswa untuk membaca dan belajar. Kegiatan pelatihan ini dibiayai sekitar 500 ribu rupiah. Pada akhirnya, dua kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan lingkungan belajar yang kondusif bagi seluruh warga madrasah. Segera setelah pelatihan, madrasah memiliki rak rak buku untuk perpustakaannya. Madrasah juga membelanjakan buku untuk perpustakaannya. Dan ini, saya juga tahu berapa rupiah yang dibelanjakan madrasah.

———————

Kawan-kawan pasti bertanya, pelatihan kok murah sekali ya… Betul, memang murah. Kenapa, karena semua komponen madrasah ingin maju, sehingga mereka juga mau berkorban. akhirnya, biaya yang ditanggung madrasah hanyalah materi pelatihan, makan, dan pelatihan di lakukan di madrasah. Oleh karenanya, tempat itu gratis. Tak ada uang hadir, tak ada uang transport. Bagimana dengan pelatih? Sama dengan warga madrasah, mereka tak mau menerima fee atau transport. Semuanya bekerja lillaahita’ala. Bahkan diantara pelatih itu minta diundang lagi, gratis! Subhanallah.

Pengembangan mutu madrasah itu tidak hanya di dua kegiatan itu sebenarnya. Seiringin dengan meningkatknya peran yayasan dan komite, banyak sekali kegiatan peningkatan yang dicapai madrasah ini. Pada akhirnya, dua madrasah ini bisa diakreditasi dan mendapatkan hasil seperti yang saya ceritakan itu.

Sekali lagi, Kepemimpinan itu sangat penting dalam sebuah perubahan. Tentu saja, Komitmen untuk berubah lebih baik dan bermutu adalah seperti semen untuk sebuah pondasi bangunan.

Kedua, Tim kerja adalah langkah awalnya. Dari sana, Prioritas dibuat dan dilaksanakan.

Lelah itu pasti saat kita mencangkul, tapi siapa yang tak lega bila benih yang kita tanam itu tumbuh, berbunga dan berbuah.

 

Semoga bermanfaat. Salam Sukses.

18 thoughts on “Kunci Perubahan : Komitmen Maju

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *