Manajemen Resiko , Penting !

Madrasah itu ambruk…. Ruang kelas untuk anak-anak kelas 1 dan 2 di salah satu MI sasaran kita ambruk, malam hari saat hujan deras mengguyur. Karena terjadi di malam hari, tidak ada korban jiwa. Alhamdulillah tak ada korban jiwa, sekaliagus innalillahi bangunan tak bisa digunakan anak-anak belajar. Di propinsi yang lain, gedung bangunan madrasah sasaran roboh, tergerus abrasi sungai yang terus ditambang pasirnya. Satu bangunan madrasah rata dengan tanah. Ini point yang akan menjadi perenungan saya.

Bila ada musibah di madrasah, apa yang bisa kita kerjakan, dan adakah rencana darurat di Madrasah kita? Itulah dua pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya saat mendengar musibah itu. Kalau tindakan bagaimana menghadapi musibah, mungkin hal yang lumrah bagi kita. Tapi membuat peRENCANAan untuk mengatasi musibah adalah hal lain, dan tak jarang kita juga mengabaikannya. Yang terkahir, menurut saya juga merupakan hal yang perlu kita lakukan, di madrasah dan juga di level organisasi kita, baik C3 maupun SNIP.

Baiklah, pertama-tama, mari kita cermati kondisi madrasah. Pertama, kita perhatikan madrasah yang atapnya ambruk itu. Madrasah sasaran kita banyak yang memiliki dan mempergunakan gedung tua. Bangunan yang didirikan pada tahun 70an. Artinya, berumur empat puluh tahun. Memang ada yang baru, atau sudah direhab. Namun banyak juga bangunan tua itulah yang menjadi tempat utama penyelenggaraan proses belajar mengajar di madrasah.

Bangunan tahun itu umumnya menggunakan kayu dan atap genteng. Namun, karena lazimnya praktek minimnya anggaran atau kegiatan perawatan/maintanance, kayu ring, usuk, blandar dan semua susunan kuda-kuda atap sangat mudah keropos oleh rayap atau ngengat, dan lapuk karena cuaca. Akibat rentetannya, atap Genteng memberi tekanan yang cukup berat, sehingga membuat atap seperti bergelombang. Karena ketiadaan kegiatan dan biaya perawatan, Pada gilirannya, setelah mendapat beban tambahan, misalnya hujan atau angin, atap itu ambruk. Persis seperti yang terjadi di salah satu MI sasaran kita di Jakarta tersebut. Apakah hal tersebut hanya terjadi di MI itu saja? Terus terang saya meragukannya. Kalau melihat data baseline, jumlah Madrasah dengan bangunan tua itu banyak sekali.

Kedua, ada madrasah yang berada dalam ancaman bencana, seperti madrasah yang roboh akibat tanah penyangga pondaainya tergerus kuatnya arus sungai. Ada ancaman bencana lain seperti banjir, tanah longsor dan sebagainya.

Mengingat kondisi tersebut cukup laten, tetap ada dan mengancam, saya pikir perlu mengenalkan pendekatan perencanaan terhadap penanganan musibah di madrasah. Bukan hanya untuk masalah atap yang ambruk, tapi juga kecelakaan, bencana alam, kriminal dan hingga terorisme di madrasah. Ini bukan hanya penting untuk lingkungan madrasah, lebih penting lagi adalah bagaimana kita menangani kondisi psikologis, mental semua komponen di madrasah, utamanya anak-anak didik kita.

Ada sebuah buku yang menarik terkait kondisi darurat di sekolah, yang bisa kita terapkan di madrasah. “CRISIS MANAGEMENT and the school community” (2003) adalah hasil tulisan kroyokan yang diedit oleh Mardie Whitla. Dalam pengantarnya, Whitla menceritakan, ada satu sekolah yang mengalami tragedi beruntun. Dua siswa dibunuh oleh ayah kandungnya, seorang guru bunuh diri, empat siswa mati kecelekaan di dekat sekolah itu, tawuran antar gang pecah di dekatnya, seorang guru frustasi dan mengancam membakar sekolah, seorang siswa diculik lalu dibunuh sepulang sekolah, ada kebakaran di bagian lain sekolah.

Masih banyak kejadian tragis lain yang sangat mengganggu sekolah itu. Memang peristiwa-peristiwa itu tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan, tapi berbagai peristiwanitu sudah cukup untuk menyebutnya sebagai sekolah yang penuh tragedi. What’s to be done next?

Tentu, penanganannya sangat bergantung pada apa musibah yang terjadi. Secara garis besar, Ada dua hal yang saya simpulkan dari buku tersebut, pertama penanganan korban musibah baik secara fisik maupun psikologis yang sangat terkait trauma peristiwa. Yang kedua adalah usaha-usaha sekolah untuk memperbaiki lingkungannya. Kedua hal inilah yang akan segera membangkitkan sekolah untuk tetap bergerak maju dan kejadian serupa tidak terulang di masa yang akan datang. Yang menjadi hal yang perlu kita pelajari dari buku tersebut adalah situasi darurat dapat terjadi kapan saja, oleh karenanya, perlu ada sebuah pengelolaan krisis yang bersifat antisipatif dan terencana terhadap sebuah musibah yang yang mungkin terjadi di sekolah, misalnya atap ambruk atau bangunan roboh dalam konteks madrasah sasaran yang menempati bangunan tua. Sangat penting dalam penyusunan manajemen krisis itu melibatkan semua komponen madrasah yang terkait dengan madrasah.

Saya berpikir, kawan-kawan bisa mendiskusikannya, mungkin sudah saatnya kita memasukkan manajemen krisis madrasah masuk dalam pelatihan kita. Mungkin ada sesi tersendiri di modul Hidup Sehat, mengingat kondisi madrasah yang sebagai berada dalam ancaman laten atap ambruk.. Sehingga ke depannya, modul pelatihan itu menjadi Hidup Sehat dan Aman di Madrasah. Sama halnya di sekolah-sekolah di Jepang, mereka sudah sangat antisipatif terhadap situasi darurat gempa, dengan pelatihan dan simulasi darurat bencana. Bagaimana?

 

Semoga bermanfaat. Salam sukses!

7 thoughts on “Manajemen Resiko , Penting !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *